Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Resume QnA
Peran Orang Tua Dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas
Kelompok 3
1. Neni Gustiarini
Bismillah..
Izin bertanya tetehs ❤ Seberapa penting peran orangtua dirumah, peran guru disekolah jika sudah sekolah dan peran lingkungan luar jika sudah mulai bersosialisasi dalam membangkitkan fitrah Seksualitas anak? Bisa diberikan contohnya? mohon pencerahannya tetehs.. Syukron
Jawaban :
Kalau ditanya seberapa penting, kami yakin pasti semua tetehs di sini akan menjawab penting banget peran orangtua, guru dan lingkungan dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak.
Menurut Pak Dandi Birdy, beliau adalah psikolog dan pegiat HE. Bahwa *personality* itu = *pendidikan di rumah* x *lingkungan*. Jadi, sebagai orang tua yg ranah kerjanya di "pendidikan di rumah" tugas kita adalah meningkatkan faktor pengali dari aspek pendidikan rumah tsb. Pendidikan di rumah ini terjadi sejak bayi sampai dewasa. Poin ini harus kuat sehingga kelak saat anak terjun ke lingkungan masyarakat, dia punya *nilai fundamental yg dia pegang*, sesuai dengan nilai yang diajarkan orang tuanya di rumah.
Seorang anak yg sudah memiliki value kuat dari rumah dan kebutuhan fitrahnya (yang salah satunya adalah fitrah seksualitas) sejak lahir terpenuhi di rumah, dia akan jadi seseorang yg cukup tangguh kelak di masyarakat. Ga gampang terombang-ambing. Ga gampang ikut-ikutan sana sini. Dan utk menguatkan ini, kuncinya ada di peran ayah.
Intinya ada pada peran ayah dan peran bunda jangan sampe kebalik. Dan harus diperkuat. Letakkan sesuai perannya. Ayah lebih ke logika, ibu ke perasaan.
Kalau peran guru di sekolah,
dari buku Rumahku Madrasah Pertamaku, orangtua wajib mencarikan sekolah terbaik untuk anak. Terbaik ini bukan yang paling mahal, paling bagus, tapi yang sejalan dengan visi misi di rumah. Kalaupun tidak menemukan sekolah yang diinginkan, pilih sekolah yang kita sebagai orang tua mampu menambal kekurangan di sekolah. Karena tidak ada sekolah yang sempurna.
Anak yang sudah masuk usia sekolah, telah masuk ke fase sosiosentris. Sekolah jadi ajang anak latihan bagaimana berinteraksi dengan sesama jenis dan lawan jenisnya, latihan shalat berjamaah, guru bisa menjadi 'pemantau' di sekolah agar anak-anak tetap pada fitrah gendernya.
Mengacu pada konsepnya Pak Dandi, Peran guru sangat dominan ketika berada di lingkungan sekolahnya. Perlu memilih sekolah yg kurikulumnya ajeg. Gurunya bisa mengejawantahkan prinsip sekolah dengan baik. Jika terdeteksi penyimpangan-penyimpangan yg terjadi di lingkungan sekolah, guru bisa dengan cepat menangani dan kembali ke haluan yg seharusnya. Istilahnya seperti guardian value.
Peran orang tua tidak hanya berhenti pada pendidikan di rumah dan pemilihan sekolah. Karena lingkungan pergaulan anak-anak kita adalah faktor penting dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Untuk peran lingkungan, termasuk pertemanan di dalamnya, bergabung dengan lingkaran pertemanan merupakan tahapan penting bagi anak. Maka orang tua perlu mengenali karakteristik pertemanan anak. Karena teman bisa menjadi sosok yang bisa berpengaruh besar pada anak jika orang tua tidak memenuhi perannya di rumah.
Terbayang ya teh kalau orang tua tidak memenuhi kebutuhan fitrah anak, anak berteman dengan teman yang tidak baik maka temannya akan memberikan pengaruh lebih pada anak kita.
Melindungi lebih baik daripada mengobati. Merekayasa lingkungan yang baik bagi anak pada masa kecilnya, 1000 kali jauh lebih mudah daripada menyelamatkan anak yang sudah terlanjur masuk dalam lingkaran pertemanan yang rusak. -- Dr. Khalid Ahmad Syantut
2. Bunsay5 Inayati Rahim (Tira) *
Contoh kasus yg tadi kan ketika korbannya laki2, kalau korbannya perempuan apakah sama ?
Saya jd teringat bbrp waktu yg lalu, Wafa cerita kalau saudaranya hamil (usianya sama 6,5 tahun). Saya kaget dong.. setelah ditanya, katanya kemaluannya udah dipegang sama saudara laki2nya makanya kan jadi hamil..Gitu katanya. Ketika ada kejadian seperti itu sepertinya khawatir akan melekat juga dalam ingatannya hingga besar. Apakah bisa dan Bagaimana agar anak bisa _sembuh_ dari ingatan itu?
Jawaban :
Bismillaah hasil diskusi kami
Pertama yang harus dilakukan adalah teh Tira memberitahu ibunya bahwa anaknya telah mengalami kejadian seperti itu. Lalu ibu si anak ngobrol biasa aja sama anaknya atas apa yg sudah terjadi. Kalau 'cuma' dipegang kemaluannya tanpa ada tindakan lebih jauh dan respon ibu biasa dalam menanggapi hal tersebut, *mungkin* pengalaman tadi menjadi pengalaman biasa aja bagi si anak. Dan berdoa kepada Allaah semoga pengalaman tadi gak akan berdampak apa-apa pada anak.
Karena suatu kejadian bisa melekat sangat lama kalau kejadian itu penuh dengan emosi (bahagia banget, sedih banget, takut banget).
Kalau terjadi tindakan lebih jauh dari sekedar memegang atau respon orang tua yang marah dan malah menyalahkan anak, nah ini bisa jadi faktor ingatan itu melekat.
Lalu, orangtuanya harus waspada terhadap saudara jauhnya itu. Kenapa coba si anak bisa melakukan tindakan memegang kemaluan? Apakah memang biasa di keluarganya? Atau pernah melihat temannya juga melakukan hal sama dan dianggap lucu?
Khawatir dikemudian hari akan melakukan hal yang sama lagi. Dan khawatir lebih jauh lagi.
Dan, memulai sex education sejak dini. Kenalkan mana auratnya yang boleh dan tidak boleh dipegang orang lain (melalui nyanyian yg kemarin dishare), apa yang harus dilakukan ketika ada orang lain yang mencoba memegang daerah yang tidak boleh disentuh siapapun, dll
Kalau anak usia 6tahunan sudah tau kalau 'memegang kemaluan bisa hamil', nah jangan-jangan ada yg memberitahukan seperti ini dan tentu saja kan salah yaa..
Nanti anak malah merasa berdosa/bersalah karena dirinya hamil.
Orang tua si anak perempuannya harus tau kejadiannya. Trus ngobrol dengan anak perempuannya. Tanyakan kemarin main apa sama si aa itu? Mainnya gimana? Trus dede diapain? Trus respon dede gimana diperlakukan begitu? Dede perasaannya bagaimana? Menurut dede boleh ga sih begitu? Trus masuk deh ke nasehatnya bahwa kita punya loh bagian private yg ga boleh orang lain menyentuh. Harus dijaga dan gmn cara menjaganya. Siapa yg boleh memegang dan bagaimana. Harus atas izin dianya.
Trus orangtua si anak perempuannya perlu ngobrol jg dengan orangtua anak laki-lakinya utk mengingatkan anaknya. Supaya dari pelaku laki2nya juha ada perubahan. Takutnya jadi kebiasaan dan bs kejadian di anak lain.
#kuliahbundasayangIIP
#tantangan10hari
#institutibuprofesional
#gamelevel11
#day3
Walaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar